Membawa Inovasi Hingga ke Desa, Dosen PTI FKIP UMS Terpilih Sebagai Dosen Berdampak oleh Kemendiktisaintek Indonesia

Dosen Pendidikan Teknik Informatika UMS, Hardika Dwi Hermawan S.Pd., M.Sc.ITE., yang berinovasi dalam pembangunan desa dan menggerakkan anak muda pada pengabdian masyarakat telah meraih penghargaan sebagai “Dosen Berdampak” oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Indonesia bersama Paragon Corp Indonesia.

Hardika bercerita mengenai awal dari segala kesuksesannya semenjak studi S2 nya di Hong Kong dan kamar kos sempitnya yang berukuran 2×1 meter, ia memilih pulang kampung untuk menyalakan lilin perubahan. Melalui Desamind Foundation yang ia dirikan, Hardika kini memimpin gerakan pemberdayaan desa, tidak hanya dengan program sosial biasa, tetapi juga dengan inovasi teknologi canggih seperti Virtual Reality (VR). Inspirasi pendirian Desamind lahir dari pengalaman hidup dan kepedulian sosial yang telah mendarah daging. Tumbuh di keluarga guru, ia menyaksikan langsung jurang kesenjangan akses pendidikan antara kota dan desa.

“Saat kuliah di UNY, saya melihat banyak anak muda di desa yang cerdas, tapi tidak punya kesempatan,” ujar Hardika.

Pemicu itu semakin kuat ketika ia menerima beasiswa LPDP untuk belajar di The University of Hong Kong. “Dari ruang sekecil itu, saya menemukan makna besar: bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang akademik. Maka setelah lulus, saya memilih pulang kampung,” kenangnya. Kini, sebagai dosen di UMS, ia mendedikasikan dirinya untuk membawa perubahan dari desa bersama rekan-rekannya. Tantangan terberat Hardika selama perjalanannya ke daerah 3T adalah perubahan pola pikir yang harus ia hadapi, Hardika mengakui tantangan terberat bukanlah soal infrastruktur. Ia dan timnya pernah menempuh perjalanan kapal hingga empat hari untuk mencapai lokasi pemberdayaan.

 

“Tantangan sesungguhnya adalah mendorong perubahan pola pikir masyarakat ke arah lebih berkembang. Banyak orang di desa yang sudah lama hidup dengan mental ‘nrimo’, sehingga perubahan dianggap mengancam kebiasaan lama,” jelasnya. Sebagai akademisi, ia belajar bahwa transformasi sosial bukan sekadar memberi pelatihan, melainkan membangun ekosistem pembelajaran (learning ecosystem) yang berkelanjutan. “Kami tidak datang membawa solusi instan, tapi membuka ruang dialog agar masyarakat sendiri menjadi subjek perubahan, bukan objek program,” tambahnya.

Untuk mengakselerasi perubahan tersebut, Hardika mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) ke dalam dua inovasi utamanya dalam bentuk VR (Virtual Reality) dan Sekolah “Local Heroes’:

  1. Virtual Reality Behavior Simulation (VRBS): Sebuah media edukasi berbasis virtual reality yang ia kembangkan bersama mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (PTI) UMS. Inovasi ini dirancang khusus untuk mencegah hoaks dan judi online di masyarakat dengan menggabungkan simulasi perilaku dan edukasi hukum berbasis realitas lokal. Program ini telah diimplementasikan bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Purbalingga.
  2. Sekolah Local Heroes Desamind: Sebuah platform Learning Management System (LMS) berbasis desa. Platform ini melatih pemuda desa untuk memiliki tiga kompetensi utama: literasi digital, kepemimpinan, dan kewirausahaan sosial.

“Dari sisi akademik, kedua program ini menjadi model integrasi research–teaching–community service. Dari sisi praktik, keduanya menjadi alat nyata memberdayakan masyarakat,” tuturnya. Dengan peran dosen serta dampak nyata yang telah ia ukir. Hingga kini, Desamind Foundation telah melibatkan lebih dari 29.000 penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia. Dampak paling terasa, menurut Hardika, adalah munculnya kemandirian baru di kalangan pemuda desa, tumbuhnya budaya kolaboratif, serta pemberian puluhan beasiswa untuk anak-anak desa.

Keberhasilan ini juga tak lepas dari peran mitra strategis seperti Paragon, PLN Peduli, dan Pertamina Foundation, yang ia sebut sebagai fondasi keberlanjutan dalam sinergi penta helix. Ia memaknai perannya sebagai dosen bukan sekadar pengajar, tetapi sebagai knowledge mobilizer—penghubung antara universitas dengan kebutuhan riil masyarakat. “Ilmu tanpa kebermanfaatan sosial hanyalah teori, dan pengabdian tanpa dasar ilmiah hanyalah aktivitas tanpa arah. Saya selalu mendorong mahasiswa untuk ‘belajar di laboratorium masyarakat’,” tegasnya.

Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya, ia berpesan untuk tidak takut memulai hal kecil dan tidak menunggu waktu ideal. Mengutip Bung Hatta, ia menutup, “Indonesia akan bercahaya tidak hanya karena obor di Jakarta, tetapi karena lilin-lilin di Desa.”