Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (PTI UMS) Universitas Muhammadiyah Surakarta menerima kunjungan dari Komdigi Indonesia pada Senin, 24 November 2025. Kunjungan ini diwakili oleh Said Mirza Pahlevi, D.Eng., selaku Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi.

Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi terbuka dan reflektif. Sejak awal, pembahasan diarahkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi pencipta teknologi kecerdasan buatan. Pertanyaan ini menjadi pengantar untuk melihat kondisi riil pengembangan dan kebutuhan talenta AI nasional saat ini.
Dalam pemaparannya, Said Mirza menjelaskan bahwa penggunaan Artificial Intelligence, khususnya Generative AI, di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Nilai pasar AI Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 1,8 miliar USD pada tahun 2030 dengan pertumbuhan hingga enam kali lipat dibandingkan tahun 2023. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat antusiasme penggunaan AI tertinggi di dunia, termasuk dalam kunjungan ke platform AI global serta pemanfaatan AI oleh pelajar, mahasiswa, dan tenaga pendidik. Data ini menunjukkan peluang besar, sekaligus menegaskan tantangan serius dalam penyediaan talenta AI yang kompeten dan berdaya saing global.

Diskusi kemudian mengerucut pada kebutuhan strategis Komdigi terhadap talenta AI. Bukan sekadar pengguna tools, tetapi talenta yang mampu membangun model, mengelola data, mengembangkan sistem AI end-to-end, hingga melahirkan inovasi dan solusi berbasis kebutuhan nasional. Urgensi ini sejalan dengan proyeksi World Economic Forum yang menempatkan AI dan Big Data sebagai salah satu kompetensi paling dibutuhkan di dunia kerja beberapa tahun ke depan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi PTI UMS, Sukirman, Ph.D., menyampaikan bahwa pertemuan ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan akademik program studi. Menurutnya, pemaparan mengenai lanskap AI nasional dan kebutuhan talenta dari Komdigi menjadi bahan penting untuk melakukan pembaruan kurikulum PTI.
“Diskusi ini membantu kami melihat perkembangan teknologi informasi terkini secara lebih utuh, khususnya di bidang AI. Ini menjadi masukan yang sangat relevan untuk meng-update kurikulum PTI agar selaras dengan kebutuhan industri dan arah pengembangan teknologi saat ini,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama juga dipaparkan skema pengembangan talenta AI yang dirancang oleh BPSDM Komdigi melalui ekosistem Digital HR Development. Skema ini mencakup pemetaan okupasi nasional, standar kompetensi (SKKNI), learning path AI yang terstruktur, hingga pembentukan Digital Talent Pool nasional. Program unggulan seperti Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) dirancang untuk menjembatani perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan negara melalui pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan infrastruktur GPU, sertifikasi, serta pendampingan mentor dari dalam dan luar negeri

Bagi PTI UMS, pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga langkah awal untuk memperkuat relevansi kurikulum dan peran program studi dalam menyiapkan calon pendidik dan lulusan informatika yang adaptif, kritis, serta siap menghadapi dinamika perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan di masa depan.

